Sosiologi Perkotaan


Halo, teman-teman. Perkenalkan saya Muhammad Raihan Aditama, mahasiswa Pendidikan Sosiologi, Universitas Negeri Yogyakarta. Pada kesempatan ini saya akan menuliskan beberapa hal mengenai kajian Sosiologi Perkotaan untuk memenuhi Ujian Tengah Semester pada mata kuliah tersebut.

 

Situasi Jakarta pada malam hari (Foto: Muhammad Raihan Aditama)

 

1. Hubungan Sosiologi dengan Wilayah Perkotaan

Kajian ilmu sosiologi memiliki peran yang sangat penting bagi setiap pergerakan masyarakat perkotaan di berbagai aspek, baik aspek politik, ekonomi, agama, pendidikan, dan lain sebagainya. Heterogenitas yang ada pada masyarakat perkotaan membuat setiap kebijakan atau aturan yang dikeluarkan harus terlebih dulu melalui kajian sosiologis. Contohnya, terkait bagaimana kebutuhan masyarakat akan peraturan tersebut, bagaimana penerimaan masyarakat terhadap aturan tersebut, serta apa dampak yang sekiranya akan timbul di masa mendatang. Hal ini juga berpengaruh terhadap pembangunan yang ada di wilayah perkotaan. 

2. Teori Pertumbuhan Kota: Urban Economic Place Theory dan Kaitannya dengan Keadaan  Perkotaan Saat Ini

Pembangunan yang dilakukan di kota-kota besar selain memacu pertumbuhan ekonomi juga menjadi magnet bagi penduduk dari berbagai daerah untuk berdatangan ke kota tersebut. Mereka ingin mengadu nasib ke kota besar karena berharap bisa mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Terdapat kecenderungan bahwa kegiatan ekonomi akan terpusat di suatu wilayah dengan konsentrasi penduduk yang relatif tinggi. Hubungan positif antara konsentrasi penduduk dengan kegiatan ekonomi akan menyebabkan semakin besarnya area konsentrasi penduduk sehingga membentuk sebuah cikal bakal daerah perkotaan. 

Contohnya di wilayah Jakarta. Seperti kita ketahui bahwa Jakarta menjadi incaran banyak perantau karena pertumbuhan ekonomi yang dipandang menggiurkan dibandingkan di daerah lain terutama di daerah asal mereka. Setiap tahunnya banyak orang datang ke Jakarta untuk merantau, bahkan tidak banyak dari mereka tanpa bekal yang mencukupi sehingga apa yang mereka dapatkan tidak sesuai harapan atau bahkan lebih buruk dari kehidupan sebelumnya. 

 

Potret Ibukota Jakarta (Foto: Muhammad Raihan Aditama)

3. Sosialisasi di Wilayah Perkotaan

Bicara tentang sosialisasi di perkotaan tentunya tidak bisa dilepaskan dari agen-agen sosialisasi, contohnya sekolah dan media massa. Sekolah menjadi agen sosialisasi bagi anak karena di sanalah mereka mencari ilmu untuk bekal di masa depan. Di daerah perkotaan, biasanya jam sekolah lebih lama daripada di daerah pedesaan. Sekolah di perkotaan biasanya memiliki jam belajar sekitar 8-10 jam. Artinya, sebagian besar waktu siswa di siang hari dihabiskan di perkotaan. Hal ini membuat pengaruh sekolah terhadap proses sosialisasi anak semakin besar. Partisipasi guru dan teman sebaya serta orang tua sangatlah diperlukan agar proses sosialisasi berjalan dengan baik dan anak tidak terjerumus pada jalur yang tidak tepat. 

Tak hanya itu, media massa juga menjadi agen sosialisasi yang berpengaruh bagi anak-anak di perkotaan. Mereka bisa mendapatkan informasi apapun melalui gadget yang mereka miliki, karena perkembangan teknologi yang sudah semakin pesat. Jika tidak dikontrol dengan baik, media massa bisa membawa anak kepada kegiatan-kegiatan yang kurang positif. 

Contoh dampak dari tidak sempurnanya sosialisasi sekolah dan media massa adalah pada berita berjudul "Seratusan Siswa Datangi DPR: Ikut-ikutan dan Dapat Pesan WA" yang dipublikasikan pada tautan https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190925132043-20-433840/seratusan-siswa-datangi-dpr-ikut-ikutan-dan-dapat-pesan-wa

Berita yang dipublikasikan pada 25 September 2019 tersebut berisi tentang ratusan siswa yang mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka datang dengan maksud mengikuti demo RUU, namun mereka tidak tau apa sebenarnya yang akan mereka demo. Para siswa mengaku hanya ikut-ikutan karena mendapat informasi dari media sosial. Masalah selanjutnya, para pelajar tersebut tertangkap oleh polisi dengan barang bukti beberapa kembang api atau petasan dan odol. Anak-anak ini diamankan oleh polisi karena berpotensi menjadi biang kerusuhan pada aksi demo.

Hal ini menunjukkan sosialisasi sekolah dan media massa yang tidak sempurna. Kurangnya kontrol dari pihak sekolah (guru dan teman sebaya) serta kurangnya kontrol terhadap media sosial menjadi faktor penyebabnya. Jika agen-agen sosialisasi menjalankan tugasnya dengan baik, maka kejadian ini akan dapat diminimalisir sehingga dampak-dampak negatif ke depannya pun dapat diminimalisir pula.

4. Gambaran Kota Istana

 

Salah satu bangunan khas di lingkungan dekat Kraton Yogyakarta (Foto: Muhammad Raihan Aditama)

Kota istana atau kota kerajaan adalah kota yang terbentuk karena asal muasal dari kerajaan. Tata kotanya masih banyak peninggalan kerajaan pada masa dahulu yang dimasukkan dalam kategori cagar budaya. Contohnya adalah Kota Yogyakarta. Tata kota Yogyakarta yang masih kental dengan kota istana bisa dilihat terutama pada lingkungan Kraton atau warga sering menyebutnya njeron beteng. Di sana, banyak terdapat tempat-tempat milik Kraton yang berdampingan dengan pemukiman warga, seperti Taman Sari, Siti Hinggil, Komplek Kraton Kilen, dan lain-lain. Bangunan yang didirikan oleh warga pun diatur untuk tidak diperkenankan mendirikan bangunan tinggi atau tingkat. Selain itu, tanah yang ada di area tersebut tidak dimiliki oleh warga, namun warga hanya berhak atas hak pakai. Segala hal yang berurusan dengan tanah di area tersebut diurus oleh kantor pertanahan Kraton atau disebut Panitikismo.


Referensi: 

CNN Indonesia. 2019. Seratusan Siswa Datangi DPR: Ikut-ikutan dan Dapat Pesan WA. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190925132043-20-433840/seratusan-siswa-datangi-dpr-ikut-ikutan-dan-dapat-pesan-wa (diakses pada 25 Oktober 2020)

Heryansyah, Tedy R. 2017. Pusat Pertumbuhan Berdasarkan Teori Tempat Sentral Walter Christaller. https://blog.ruangguru.com/pusat-pertumbuhan-berdasarkan-teori-tempat-sentral-walter-christaller (diakses pada 25 Oktober 2020)

Sosiologis.info. 2019. Lima Media atau Agen Penting dalam Sosialisasi. https://www.sosiologi.info/2019/02/lima-media-atau-agen-penting-dalam-sosialisasi.html (diakses pada 25 Oktober 2020) 

Tyastiara, Hayumas. 2016. Analisis Sosial Ekonomi Kota Cerdas di Indonesia : Studi Kasus 33 Kota Besar Tahun 2014. Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Universitas Sebelas Maret; Surakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku: SOSIOLOGI SUATU PENGANTAR Karya Soerjono Soekanto

Pengalaman Membuat Paspor Anak dibawah 17 Tahun, Tidak Sesulit yang Dibayangkan